Aku yang
berzodiak Leo yang bergolongan darah O lahir pada tahun 2000 di pedalaman
Kalimantan Barat jauh dari kota tanpa adanya listrik Negara, hanya
menggandalkan pelita. Orang- orang menyebutnya Ompuk Lintang Pelaman. Suatu Desa yang sampai kini
masih hidup tanpa adanya listrik negara dengan jalanan yang masih
berbukit-bukit dan bertanah kuning. Jika hujan berlumpur panas berdebu.
Namun aku tidak pernah menyesal atau malu sekalipun dengan keaadaan itu, warga di kampungKu
masih hidup bergotong-royong saling bahu membahu membantu sesamaNya. Itu yang
membuatku tersenyum hingga saat ini. Tidak ada yang banyak berubah hingga saat ini keramahan orang-orang,
letak kampung masih seperti saat aku dilahirkan kata bapakKu. Hanya satu yang
paling aku sesalkan, mungkin juga semua orang di kampungku ,hutan. Hutan yang
dijaga berpuluh-puluh bahkan beratusan tahun oleh moyangKu sekarang sudah
menjadi lahan perkebunan sawit oleh perusahaaan swasta yang masuk tahun 2010
seingatku. Hutan yang begitu indah dengan binatang yang ada di dalamnya sekejap
mata hilang berganti pohon kelapa sawit. Sungai yang dulunya sangat indah bagi
anak-anak bermain, sungai yang menjadi tempat semua orang bertemu telah menjadi
dangkal dan berwarna coklat. Bahkan awal tahun 2019 lalu kampungKu dilanda
banjir bandang hingga jembatan pun ikut hanyut. So sad
Oiya tentang
perusahaan itu menurutKu seperti Kuli di tanah sendiri. Sangat menyakitkan. Masyarakat dilema, di satu sisi ingin ada kemajuan tetapi disatu sisi malah merusak. Namun kenyataannya ya hutan memang rusak kehidupan yang dulu rusak. Jika pulang ke kampung hati ini menjerit ingin menangis rasanya, kok di perantauan ku sebut saja di pulau Jawa semua sangat mudah rasanya, pembagunan begitu cepat dari segi infrastruktur ataupun teknologi. Di kampung jangankan menggunakan internet sinyal aja susah payah (oiya aku terkadang juga tersenyum sendiri melihat mereka, karena susahnya sinyal HP orang-orang di kampungku menggunakan HT wkwk seperti panitia diklat aja hehehe). Juga yang menjadi masalah adalah infrastruktur, mengapa di kampungku susah maju karena akses jalan sangatlah hancur tanah kuning berbukit-bukit, jika hujan becek seperti bubur, sebaliknya jika kemaru bak lautan debu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar