Kamis, 16 April 2020

Lintang Pelaman Village




   Aku yang berzodiak Leo yang bergolongan darah O lahir pada tahun 2000 di pedalaman Kalimantan Barat jauh dari kota tanpa adanya listrik Negara, hanya menggandalkan pelita. Orang- orang menyebutnya Ompuk  Lintang Pelaman. Suatu Desa yang sampai kini masih hidup tanpa adanya listrik negara dengan jalanan yang masih berbukit-bukit dan bertanah kuning. Jika hujan berlumpur panas berdebu.
   Namun aku tidak pernah menyesal atau malu sekalipun dengan keaadaan itu, warga di kampungKu masih hidup bergotong-royong saling bahu membahu membantu sesamaNya. Itu yang membuatku tersenyum hingga saat ini. Tidak ada yang banyak  berubah hingga saat ini keramahan orang-orang, letak kampung masih seperti saat aku dilahirkan kata bapakKu. Hanya satu yang paling aku sesalkan, mungkin juga semua orang di kampungku ,hutan. Hutan yang dijaga berpuluh-puluh bahkan beratusan tahun oleh moyangKu sekarang sudah menjadi lahan perkebunan sawit oleh perusahaaan swasta yang masuk tahun 2010 seingatku. Hutan yang begitu indah dengan binatang yang ada di dalamnya sekejap mata hilang berganti pohon kelapa sawit. Sungai yang dulunya sangat indah bagi anak-anak bermain, sungai yang menjadi tempat semua orang bertemu telah menjadi dangkal dan berwarna coklat. Bahkan awal tahun 2019 lalu kampungKu dilanda banjir bandang hingga jembatan pun ikut hanyut. So sad 
   Oiya tentang perusahaan itu  menurutKu seperti  Kuli di tanah sendiri. Sangat menyakitkan. Masyarakat dilema, di satu sisi ingin ada kemajuan tetapi disatu sisi malah merusak. Namun kenyataannya ya hutan memang rusak kehidupan yang dulu rusak. Jika pulang ke kampung hati ini menjerit ingin menangis rasanya, kok di perantauan ku sebut saja di pulau Jawa semua sangat mudah rasanya, pembagunan begitu cepat dari segi infrastruktur ataupun teknologi. Di kampung jangankan menggunakan internet sinyal aja susah payah (oiya aku terkadang juga tersenyum sendiri melihat mereka, karena susahnya sinyal HP orang-orang di kampungku menggunakan HT wkwk seperti panitia diklat aja hehehe). Juga yang menjadi masalah adalah infrastruktur, mengapa di kampungku susah maju karena akses jalan sangatlah hancur tanah kuning berbukit-bukit, jika hujan becek seperti bubur, sebaliknya jika kemaru bak lautan debu. 
  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar